Minggu, 28 Juni 2020

Sejarah Berdirinya Pencak Silat NU PAGAR NUSA



Sejak jaman dahulu, di lingkungan Pesantren  NU, terdapat banyak sekali aliran silat; baik aliran silat yang ada di Jawa timur, Jawa barat, Jawa tengah, Banten, silat Betawi, silek Minang, silat Mandar, Silat Mataram, dan lain lain. Karena beragamnya aliran silat tersebut maka dibentuklah PAGAR NUSA sebagai wadah perkumpulan perguruan pencak silat dibawah naungan NU.
Wadah ini tetap membuka keragaman dan memberi keluasaan pada tiap-tiap perguruan untuk mengembangkan diri dan mempertahankan cirri khasnya masing-masing. Artinya walaupun ada perbedaan namun tetap satu saudara. Maka tak heran jika sekarang ini kita mengenal ada: Pagar Nusa Gasmi, Pagar Nusa Batara Perkasa, Pagar Nusa Satria Perkasa Sejati (Saperti), Pagar Nusa Nurul Huda Pertahanan Kalimah Syahadat (NH Perkasa), Pagar Nusa Cimande Kombinasi, Pagar Nusa Sakerah, Pagar Nusa Tegal Istigfar, Pagar Nusa JPC, Pagar Nusa Bintang Sembilan, Pagar Nusa Sapu Jagad, dll.

1.      Gus Maksum dan Berdirinya GASMI
Rasa keprihatinan Gus Maksum atas berkembangnya konflik dimasyarakat antara kaum muslim dan golongan komunis, mendorong beliau melakukan training-training pencak silat. Kegiatan ini dilakukan dengan harapan bisa menjadi bekal bagi masyarakat terhadap ancaman teror dari PKI yang semakin brutal.  Seiring waktu, berbagai kelompok training pencak silat tersebut disatukan dalam sebuah perguruan yang diberi nama GASMI (Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia). GASMI resmi berdiri di Pondok pesantren Lirboyo pada tanggal 11 Januari 1966.
Gasmi berdiri sebagai tandingan atas berkembangnya LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang bergerak dibawah naungan PKI (Partai Komunis Indonesia).  Gus Maksum memandang ini penting karena LEKRA adalah otak dibalik setiap aksi provokasi, sabotase, teror dan hal-hal yang meresahkan masyarakat lainnya. Menghadapi aksi LEKRA ini, beliau mengatakan “Ada Aksi ada Reaksi LEKRA beraksi GASMI Bereaksi, Amar ma’ruf nahi mungkar harus selalu ditegakan!”.
Bentuk-bentuk perjuangan Gasmi pada periode awal diantaranya adalah  dakwah menguasai masjid-masjid dengan latihan-latihan silat dan pengajian yang dikemas dalam latihan silat, mengadakan berbagai “Open Bar” atau “Pencak Dor”, yaitu sebuah panggung terbuka setinggi 2 meter untuk pertandingan beladiri yang melibatkan berbagai kalangan untuk bertarung secara ‘jantan dan ksatria’, maupun penanganan secara langsung terhadap “aksi sepihak” yang dilakukan oleh PKI terhadap masyarakat sipil. Baru setelah situasi keamanan mulai kondusif, pada tanggal 14 januari 1970 GASMI secara resmi didaftarkan pada Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).
 Dari lahirnya GASMI inilah Gus Maksum kemudian terinspirasi untuk menyatukan berbagai macam aliran silat yang ada di NU secara lebih luas lagi. Dimulai dengan merangkul perguruan silat tradisional lokal eks. Karesidenan Kediri seperti Jiwa Suci milik pesantren Al M’aruf Bandar Lor kediri, PORSIGAL (Perguruan Olah Raga Silat Indah Garuda Loncat), sebuah perguruan silat tradisional Blitar, Asta Dahana, sebuah perguruan silat Kediri. dan beberapa perguruan silat lokal lainnya.


2.      Gagasan PAGAR NUSA
Disisi lain, pada suatu pertemuan KH. Mustofa Bisri Rembang menceritakan kepada Prof. Dr. KH. Suharbillah Surabaya tentang semakin surutnya dunia persilatan di halaman pesantren. Hal ini ditandai dengan hilangnya peran pesantren sebagai Padepokan Pencak Silat. Sejak jaman walisongo kyai-kyai pesantren adalah juga pendekar yang mengajarkan ilmu pencak silat dipesantrennya masing-masing. Namun seiring waktu, kenyataan tersebut mulai hilang. Terutama disebabkan semakin padatnya jadwal pendidikan pesantren karena orientasi penerapan standar pendidikan modern.
Padahal diluar pesantren aneka ragam perguruan silat tumbuh semakin menjamur. Mereka menggunakan pencak silat sebagai misi pengembangan agama dan kepercayaannya masing-masing. Dan perguruan-perguruan silat yang sebenarnya bersifat lokal ini, diantara mereka saling merasa paling kuat. Sehingga tak jarang terjadi bentrokan diantara mereka. Dan yang merasa kalah kuat akhirnya berguguran dan kemudian hilang dari peredaran. Karena kenyataan tersebut, KH. Mustofa Bisri kemudian menyarankan KH. Suharbillah untuk menemui KH. Abdullah Maksum jauhari di Lirboyo Kediri untuk menggagas persoalan ini.
Kegelisahan serupa juga dirasakan oleh KH. Syansuri Badawi Tebu Ireng. Beliau menyayangkan maraknya tawuran antar pengikut perguruan silat yang meresahkan masyarakat, terutama dikawasan kabupaten Jombang dan sekitarnya. Kemudian Kyai Sansuri berinisiatif  menemui PWNU Jawa Timur yang pada waktu itu diketuai oleh KH. Hasyim Latif untuk menyampaikan masalah di masyarakat tersebut.
Selanjutnya, KH. Hasyim Latif mengutus sekretaris PWNU Jawa Timur KH. Ghofar Rahman, Ketua Lembaga Ma’arif  KH. Ahmad Buchori Susanto dan  Prof. Dr. KH Suharbillah, SH. LLT.  untuk menemui KH. Abdullah Maksum Jauhari atau yang biasa dipanggil Gus Maksum di pesantren Lirboyo Kediri. Dalam pertemuan di Lirboyo ini disepakati bahwa akan dibentuk sebuah wadah pencak silat yang menaungi seluruh aliran pencak silat dilingkungan Nahdlatul Ulama. Dan Gus Maksum yang sudah terkenal sebagai ahlinya pencak silat diminta untuk menjadi ketua umumnya nanti jika sudah terbentuk wadah tersebut.
Pertemuan berikutnya untuk menggodok konsep wadah pencak silat NU tersebut berlangsung  di Pesantren Tebu Ireng pada 12 Muharram 1406 atau bertepatan dengan 27 september 1985. Pertemuan ini dihadiri beberapa pendekar antara lain: KH. Abdullah Maksum Jauhari Lirboyo, KH. Abdurahman Ustman Jombang, KH. Muhajir Kediri, H. Athoillah Surabaya, Drs.Lamro Azhari Ponorogo, Timbul Jaya Lumajang, KH. Ahmad Buchori Susanto dan  Prof. Dr. KH Suharbillah, SH. LLT.  dan beberapa pendekar lainnya dari Cirebon, Kalimantan, Pasuruan dan Nganjuk. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan antara lain :
a.       Fatwa Ulama KH.Syansuri Badawi bahwa,”Pencak Silat Hukumnya boleh dipelajari asal dengan tujuan perjuangan.
b.      Dibentuknya suatu Ikatan bersama untuk mempersatukan berbagai aliran silat dibawah naungan NU.

3.      Berdirinya Pagar Nusa
Mengacu pada Surat Keputusan Resmi Pembentukan Tim Persiapan Pendirian Perguruan Pencak Silat NU yang disahkan pada 10 Desember 1985 dan berlaku sampai dengan tanggal 15 januari 1986, maka diadakanlah pertemuan lanjutan di pesantren Lirboyo Kediri pada tanggal 3 Januari 1986. Pertemuan itu dihadiri oleh pendekar-pendekar dari Ponorogo, Jombang, Kediri, Nganjuk, Pasuruan, Lumajang, Cirebon dan Kalimantan. Dan beberapa perwakilan  PWNU Jawa Timur diantaranya KH. Ahmad Bukhori Susanto dan Prof. Dr. KH. Suharbillah, SH. LLT. Musyawarah di Pesantren Lirboyo ini sekaligus menandai lahirnya Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa. Nama itu diciptakan oleh KH. Mujib Ridlwan dari Surabaya. KH. Mujib Ridlwan adalah putra KH. Ridlwan Abdullah pencipta lambang NU.
Sebagai embrio sebelum terbentuknya kepengurusan nasional, maka dibentuklah susunan kepengurusan Wilayah Jawa Timur sebagai berikut:
Ketua Umum                            : KH. Abdullah Maksum Jauhari
Sekretaris                                 : KH. Drs. Fuad Anwar
Ketua Harian                            : KH. Drs. Abdurrahman Ustman
Ketua I                                     : Prof. Dr. KH. Suharbillah, SH. LLT
Sekretaris I                               : Drs. H. Kuncoro
Sekretaris II                             : Lamro Azhari

4.      Terbentuknya Kepengurusan Nasional
Untuk membentuk kepengurusan Pagar Nusa ditingkat nasional, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membuat surat pengantar kesediaan ditunjuk sebagai pengurus pagar nusa. Surat pengantar tersebut ditanda tangani oleh Ketua Umum PBNU KH. Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH. Ahmad Siddiq. Tanda tangan KH. Ahmad Siddiq ini merupakan tanda tangan terakhir beliau.  
Setelah itu, pada tahun 1989 Musyawarah Nasional I direncanakan terselenggara di Pesantren Zainul Hasan, Genggong Probolinggo. Rencana ini mengacu pada surat kesediaan ditempati yang di tanda tangani oleh KH. Saifurrizal. Rupanya tanda tangan beliau tersebut juga tanda tangan yang terakhir. Musyawarah Nasional yang akhirnya terselenggara pada 1989 diadakan MUNAS Pagar Nusa yang ke1 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Kraksaan, Probolinggo. Dihadiri pendekar silat NU seluruh Nusantara, Munas itu mengangkat Langsung KH.M.Abdullah Maksum Jauhari sebagai ketua umum pertama Pagar Nusa, dan Prof.Dr. H.Suharbillah sebagai ketua Harian dan SekJen H. Kuncoro (H.Masyhur).

5.      Makna dan Peran Pagar Nusa
Pagar Nusa merupakan akronim dari Pagar NU dan Bangsa. PSNU Pagar Nusa adalah satu – satunya wadah yang sah bagi organisasi pencak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama’ berdasarkan keputusan Muktamar. Organisasi ini berstatus lembaga milik Nahdlatul Ulama’ yang penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya sama sebagaimana lembaga-lembaga NU lainnya. Status resmi kelembagaan inilah yang menjadikan Pagar Nusa wajib dilestarikan dan dikembangkan oleh seluruh warga NU dengan mengecualikan pencak silat atau beladiri lainnya. Segala kegiatan yang berhubungan dengan pencak silat dan beladiri dengan segenap aspeknya dari fisik sampai mental, dari pendidikan sampai sistem pengamanan dan lain-lain merupakan bidang garapan bagi lembaga ini.

6.      Sikap Jati diri Pagar Nusa
Jati diri Pagar Nusa sama dengan jati diri NU itu sendiri, yaitu: 1.  Ukhuwah Pagar Nusa Artinya Persaudaraan tanpa membedakan aliran dan perguruan silat di Pagar Nusa. Makanya di kenal dengan istilah “Bhineka Tunggal Ika”. Biarpun berbeda tapi tetap satu juga” berbeda aliran tapi tetap dalam satu ikatan pagar nusa. 2. Ukhuwah Nahdliyyah, artinya persaudaraan sesama NU yang tidak dibatasi oleh perbedaan Partai Politik dan latar belakang sosial. 3.  Ukhuwah Islamiyah, artinya persaudaraan sesama Islam tanpa dibatasi Perbedaan amaliyah seperti persaudaraan antara NU dan Muhammadiyah. 4. Ukhuwah Basyariah, artinya persaudaraan tanpa dibatasi perbedaan Kewarganegaraan atau perbedaan bangsa. 5. Ukhuwah Wathaniyah, artinya persaudaraan tanpa dibatasi Oleh perbedaan suku atau ras yaitu`”Bhineka Tunggal Ika “ biarpun berbeda tapi tetap satu, bangsa indonesia dan Mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara Indonesia . 6. Ukhuwah Insaniyah, artinya memandang semua manusia sama dihadapan Allah SWT yang membedakan hanyalah ketakwaan saja.

Arti Dan Makna Logo Pagar Nusa

logo pagar nusa

Pencak Silat Nahdaltul Ulama atau disingkat PSNU Pagar Nusa adalah salah satu Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama yang khusus membidangi kesenian bela diri Pencak Silat. Tugas utama dari Pagar Nusa adalah melindungi atau mewadahi perguruan dan padepokan yang beraliran NU tanpa menghilangkan ciri khas masing-masing perguruan atau padepokan. Pencak Silat Nahdlatul Ulama didirikan dan diresmikan pada 03 Januari 1986 yang di pimpin oleh KH. Maksum Jauhari (Gus Maksum).

Arti Dan Makna Logo Pagar Nusa

Adapaun Logo Pagar Nusa diciptakan oleh KH. Mujib Ridwan beliau adalah putra dari kiai ulama pencipta lambang NU yaitu KH. Ridwan Abdullah. Untuk menciptakan Logo Pagar Nusa para kiai sepuh bertabayun dan disepakati secara bersama dalam Musyawarah Besar Pagar Nusa di Lirboyo Kediri Jawa Timur. Di setiap simbol yang terdapat logo Pagar Nusa ada makna dalam yang akan kami jelaskan dibawah ini tentang arti logo Pagar Nusa.

  • Lafadz Laa Ghaaliba Illa Billah

Lafadz ini mempunyai arti tidak ada yang menang dan mengalahkan kecuali pertolongan dari Alloh SWT. Ini merupakan ciri khas dari Pencak Silat Pagar Nusa. Sejarah terbentuknya lafadz Laa Ghaaliba Illa Billah kemudian oleh beliau KH. Syansuri Badawi di anjurkan diberi tambahan lafadz Ba sehingga sampai detik ini. Hal ini sesuai dengan kalimat Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah yang berarri umu (am) untuk semua bidang kehidupan. Sedangkan ciri khas ini mengambil tibar Al Qur’an dengan kegiatan yang melibatkan fisik dan non fisik banyak disebut menggunakan kalimat berakar Ghalaba, Maka dengan itu Pagar Nusa menggunakan kalimat yang tercantum dalam simbol.

  • Kurva Segi Lima

Kurva segi lima adalah simbol dari rukun islam dan merupakan simbol rasa kecintaan terhadapap Bangsa dan Negara serta Pancasila. Simbol ini berangkat dari pengertian Rukun Islam yang disampaikan oleh Nabi SAW : Islam didirikan atas lima : Bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rosul Allah, Mendirikan Sholat, Menunaikan Sholat, Menunaikan Zakat, Puasa Ramadhan dan Berhaji ke Baitullah bila mampu.

  • Tiga Garis Tepi

Tiga garis tepi yang terdapat di lambang Pagar Nusa merupakan makna yang berjalan bersama dalam cara hidup Warga NU yaitu Iman, islam dan Ihsan. Dan ada beberapa unsur yang dalam perjalanan kehidupan manusia ketika di lahirkan sampai kembali ke sang pencipta, Alam Janin (Kandungan), Alam Dunia. Alam Akherat.

  • Bintang

Bintang yang berjumlah sembilan buah dan setengah melingkar di atas bola bumi dan di tengah tampak lebih besar merupakan sebuah ekspresi kepemimpinan Wali Songo. Simbol bintang juga berarti kemuliaan dan jumlah sembilan adalah angka tertinggi. Sesuai apa yang dimimpikan oleh Nabi Yusuf sebagai isyarat mencapai Kemuliaan. Firman Allah SWT : Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : Wahai Ayahaku Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan,’kulihat semuanya bersujud kepadaku (Q:S Yusuf : 4).

  • Senjata Trisula

Simbol ini terletak di tengah atas bola dunia tepat dibawah bintang sembilan merupakan bahwa senjata tertua dan lebih luas penyebarannya di Nusantara. Dan juga sebagai bentuk identitas bergabung dengan kelompok Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Agar tidak tercabut dengan identitas persatuan Pencak SIlat di Indonesia.

  • Bola Dunia

Bola dunia simbol ini adalah ciri khas dari organisasi di bawah Nahdlatul Ulama sebagai simbol utama dari Logo Nahdlatul Ulama yang diciptakan oleh KH. Ridwan Abdullah bedasarkan Istikharohnya. Bola dunia banyak di jadikan simbol organisasi anak Nahdlatul Ulama yang merupakan ciri khas dari logo utama agar tidak terlepas dari sebuah ikatan.

  • Warna

Warna Hijau dan putih adalah dua warna yang mengandung makna baik. Warna putih merupakan sesuatu yang suci dan bersih sedangkan untuk warna hijau yang bersifat subur, sejuk, makmur dan tenang. Kebanyakan sesuatu yang membahagiakan disimbolkan dengan warna hijau.


Sejarah Berdirinya Pencak Silat NU PAGAR NUSA

Sejak jaman dahulu, d i   lingkungan Pesantren    NU,   terdapat banyak  sekali  aliran silat ;  baik aliran silat  yang ada di   J awa timu...